Furniture bukan sekadar benda yang kita pakai sehari-hari. Kursi yang kita duduki, meja tempat kita bekerja, atau lemari yang menyimpan barang-barang berharga—semua itu adalah bagian dari perjalanan panjang budaya dan kreativitas. Di Indonesia, sejarah furniture tidak hanya tentang kayu dan paku, tetapi juga tentang identitas, pengaruh budaya luar, dan cara hidup masyarakat dari zaman ke zaman.
Awal Mula: Perabot Tradisional Nusantara
Jauh sebelum pengaruh Eropa datang, masyarakat Nusantara sudah pandai membuat perabot. Bahan utamanya adalah yang mudah ditemukan di alam: kayu jati, bambu, rotan, hingga daun kelapa.
- Di Jawa dan Bali, kita mengenal gebyok, yaitu pintu dan dinding kayu ukir yang sering dijadikan sekat ruangan. Meja dan kursinya penuh ukiran rumit dengan motif bunga, hewan, atau tokoh wayang.
- Di Sumatra, rumah gadang memiliki perabot sederhana seperti kursi panjang, bangku kayu, dan meja rendah untuk tempat berkumpul keluarga.
- Di Kalimantan dan Papua, perabot dibuat sederhana dan ringan, karena sebagian masyarakat hidup semi-nomaden sehingga butuh perabot yang mudah dipindahkan.
Fungsi furniture pada masa itu bukan hanya alat bantu aktivitas, tetapi juga simbol status sosial. Ukiran rumit atau bahan kayu berkualitas tinggi biasanya hanya dimiliki oleh kalangan bangsawan.
Masuknya Pengaruh Kolonial
Ketika bangsa Eropa, terutama Belanda, datang ke Nusantara, gaya hidup ikut berubah. Orang mulai mengenal meja makan besar, kursi dengan sandaran, dan lemari kabinet. Perabot bergaya Eropa mulai diproduksi secara lokal, namun pengrajin Nusantara menambahkan sentuhan ukiran khas. Hasilnya adalah perabot yang unik: bentuknya mengikuti gaya Eropa, tetapi detailnya tetap mencerminkan budaya Indonesia.
Pada era 1920–1930-an, gaya Art Deco mulai populer di kota-kota besar seperti Batavia (Jakarta), Semarang, dan Surabaya. Bentuk furniture jadi lebih sederhana, simetris, dan modern untuk zamannya. Kita bisa melihat jejak era ini pada rumah-rumah lama bergaya kolonial yang masih berdiri sampai sekarang.
Era Kemerdekaan dan Modernisasi
Setelah Indonesia merdeka pada 1945, dunia furniture juga ikut bergerak maju. Gaya minimalis mulai masuk, namun masih ada sentuhan ukiran tradisional di sana-sini. Pada tahun 1970–1980-an, furniture rotan menjadi primadona. Indonesia bahkan menjadi salah satu eksportir rotan terbesar di dunia. Kursi, meja, hingga rak rotan dari Cirebon, Palu, dan daerah lain banyak dikirim ke Eropa dan Amerika.
Di era ini pula industri mebel kayu di Jepara semakin berkembang. Jepara dikenal sebagai pusat ukiran kayu berkualitas tinggi, dan hingga kini nama Jepara identik dengan mebel mewah.
Furniture Indonesia Masa Kini
Di era modern, furniture tidak hanya soal fungsi dan keindahan, tetapi juga keberlanjutan. Banyak desainer muda Indonesia yang mengusung konsep eco-friendly atau ramah lingkungan. Kayu bekas, bambu, bahkan limbah industri diolah menjadi produk kreatif dengan desain modern.
Selain itu, gaya tropis minimalis kini sangat populer. Desainnya sederhana, warnanya netral, dan memaksimalkan kenyamanan. Cocok untuk rumah-rumah di iklim tropis karena terasa sejuk dan lapang.
Produk-produk karya anak bangsa juga sering ikut serta di pameran internasional seperti Milan Design Week. Ini menunjukkan bahwa kreativitas furniture Indonesia mampu bersaing di kancah dunia.
Warisan yang Terus Hidup
Sejarah furniture Indonesia bukan hanya cerita masa lalu. Ia terus hidup dalam rumah-rumah kita. Meja makan jati, kursi rotan, lemari ukir, hingga sofa minimalis yang kita pakai hari ini adalah bagian dari perjalanan panjang itu.
Furniture adalah jembatan antara tradisi dan masa depan. Dengan terus berinovasi tanpa melupakan akar budaya, furniture Indonesia akan selalu punya tempat di hati masyarakat, baik di dalam negeri maupun di mancanegara.

